Sunday, 05 September 2010
Press ID bukan ‘kartu free pass’
Written by admin   
Monday, 31 August 2009 18:34

”Wah, harus buru – buru  ada konser di Jakarta yang sayang kalau dilewatkan. Aku barusan pesan tiket via on line ”, katanya. “Ah, masak sih harus pake tiket ? ‘Kan tinggal tunjukin ID. Banyak toh temen lain yang kayak gitu ?”, kataku. ”Ah, kayak wartawan zaman bahula aja. Gengsi dikitlah. Masuk konser pake tiket”, katanya…

Itulah sebagian kata – kata  yang kuingat, saat seorang kawan lama mampir ke Solo beberapa waktu lalu. Seperti biasanya, kalau ke kota ini, dia selalu menyempatkan diri nongkrong dan wedangan di angkringan di  dekat Monumen Pers. Di tempat ini, biasanya kami ngobrol lama tentang apa saja sampai dini hari. Namun tak seperti biasa,  kawan lama yang kini bekerja untuk sebuah televisi di ibukota itu hanya singgah sebentar.

Selama ini, aku mengenal dia sebagai sosok yang menghargai semua orang. Meski sering ketemu pejabat publik bahkan akrab dengan beberapa di antara mereka, namun hal itu membuatnya merasa dekat dengan orang – orang penting. Barangkali, sikapnya ini  tumbuh karena dia memulai profesinya benar – benar dari bawah. Dia bukan jurnalis instant yang manakala kerja langsung ditugaskan di instansi – instansi penting, dengan membawa nama besar medianya.  Bertahun - tahun, dia bekerja dan ditempa dengan liputan – liputan grass root. Mungkin inilah yang membuatnya menghargai setiap orang dan tidak lekas naik pitam saat menjalankan tugas.
Terus terang saya suka dengan sikap teman saya itu. Dia memang bukan jurnalis ternama yang sering mendapatkan award. Meski begitu, aku tetap salut padanya. Satu hal yang kutahu, dia menjaga profesinya. Paling tidak, itu aku ketahui sikapnya yang tidak pernah menjadikan ID Press dari tempat dia bekerja sebagai ‘senjata’.  Tidak pula menjadikan kartu kecil itu laksana ‘pintu ajaib’ untuk masuk ke berbagai tempat atas nama ‘tugas jurnalistik’.