|
Minggu, 23 Agustus 2009 10:42:34
JOGJA: Organisasi Angkutan Darat (Organda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) siap memfasilitasi kebutuhan angkutan pemudik lebaran yang tak terangkut oleh kereta api. ”Ini merupakan kelanjutan program uji coba tahun lalu. Dan kami siap untuk melakukan back up pada pelayanan arus balik lebaran,” terang Ketua Organda DIY, Jhonny Pramantya kepada Harian Jogja, Sabtu (22/8).
Jhonny menjelaskan Organda akan menyesuaikan jumlah kebutuhan angkutan pemudik dengan mengerahkan armada-armada bus pariwisata untuk melayani trayek Jogja-Jakarta dan Jogja-Bandung. ”Berapa armada yang kita siapkan disesuaikan dengan kebutuhan. Tergantung dari jumlah penumpang yang akan diangkut,” kata dia.
Untuk sementara, kata Jhonny, pelayanan angkutan pemudik yang disediakan adalah kelas eksekutif. Besaran tarifnya, akan segera dibicarakan dengan pihak Perusahaan Otobus (PO) yang akan melayani.
”Untuk kelas ekonomi, masih perlu kita bicarakan karena ada aturan dari pemerintah terkait batas atas dan batas bawah,” kata dia. Sementara itu terkait dengan persentase kenaikan tarif lebaran untuk bus non ekonomi, Jhonny mengatakan saat ini pihaknya belum berani melakukan prediksi berapa jumlah kenaikan yang akan dipatok. Pasalnya pihaknya memerlukan pembicaraan dengan para PO bus non ekonomi terlebih dahulu.
”Kenaikan tarif untuk bus non ekonomi jelas mengacu pada ketetapan Organda nantinya. Namun begitu kami belum bisa berkomentar banyak. Mungkin minggu depan sudah ada hasilnya,” kata dia.
Sementara itu, Kepala UPT Terminal Giwangan, Imanuddin Aziz mengatakan, pada lebaran tahun ini, kenaikan tuslah untuk angkutan kelas ekonomi masih sama dengan tahun lalu.
Kenaikan mengacu pada Keputusan Menteri No.1/2009 sebesar Rp139 per penumpang per kilometer untuk tarif batas atas dan Rp86 per penumpang per kilometer untuk tarif batas bawah.
”Besar kenaikan per rupiah tinggal dikalikan dengan jarak tempuhnya,” kata Imanuddin. Sedangkan untuk tarif kelas non ekonomi, pemerintah akan menyerahkan pada mekanisme pasar.
Dengan adanya pengawasan terhadap pengenaan kenaikan tarif non ekonomi tersebut dari dinas terkait. ”Ada ciri-ciri dan kriteria tiket angkutan lebaran yang benar. Dan itu akan kami pantau dan awasi di lapangan,” kata dia.
Ciri-ciri tiket angkutan lebaran yang benar di antaranya, tertulis nama jelas, alamat dan nomor telpon dari PO. Tertulis dan tercetak dengan jelas penulisan besaran tarif angkutan lebaran, serta asal dan tujuan pelayanan angkutan. ”Jika ada tarif yang tertulis dengan tangan tidak diperbolehkan dan harus tercetak,” kata dia.
Kereta api Sementara itu PT Kereta Api (KA) Daerah Operasi (Daops) VI Yogyakarta menyiapkan tiga rangkaian kereta api tambahan sebagai kereta lebaran untuk mengantisipasi kemungkinan terjadi lonjakan jumlah penumpang pada libur Lebaran nanti.
“Kami telah menyiapkan tiga rangkaian kereta lebaran, yakni untuk kelas ekonomi satu rangkaian kereta Bengawan Lebaran jurusan Solo Jebres-Jakarta Tanah Abang, Senja Utama Lebaran jurusan Stasiun Tugu Yogyakarta-Jakarta Pasar Senen kelas bisnis, dan Argo Lawu Lebaran dari Stasiun Solo Balapan jurusan Jakarta Gambir,” kata Kepala Humas PT KA Daops VI Yogyakarta Eko Budiyanto, kemarin, seperti dikutip Antara.
Menurut dia, angkutan lebaran tahun ini terbagi dalam tiga sesi yakni pralebaran mulai 11 hingga 20 September, pada saat lebaran 21 dan 22 September, serta purna Lebaran 23 September hingga 2 Oktober 2009. (Yuspita Anjar Palupi)
|