Kamis, 11 Maret 2010
Hikmah Ramadan: Kembalinya Jati Diri Manusia yang Fitrah
Ditulis Oleh admin   
Selasa, 01 September 2009 01:50 WIB

Sya'roni Ma'shum

Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Lampung

RAMADAN merupakan bulan berkah, pahala, dan pengampunan. "Ahlan Wasahlan, Marhaban ya Ramadan." Kehadirannya selalu dinanti-nanti oleh umat muslim di seluruh dunia. Ramadan ditunggu-tunggu karena banyak air mata hikmah yang akan diperoleh bagi kehidupan manusia. Baik itu pada dimensi dunia maupun akhirat. Untuk kesehatan jasmani dan rohani, hingga kehidupan pribadi dan sosial umat.

Merujuk pada surat Al-Baqarah 183 yang menyebutkan, "Orang-orang yang beriman diseru oleh Allah swt. untuk melaksanakan kewajiban berpuasa (bulan Ramadan) agar menjadi orang bertakwa. Untuk mewujudkan dirinya sebagai muttaqin, mereka terlebih dahulu harus menjadi pribadi muslim, mukmin, muhsin, serta mukhlis. Matarantai tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh atau jalan hidup manusia mulai dari awal hingga akhir.

Sebagai pribadi yang mukmin, utamanya kita harus beriman. Meyakini akan kebenaran perintah Allah swt. merupakan niat untuk berpuasa. Kita akan melaksanakan shaum (puasa) selama satu bulan. Diawali dengan niat, dan mulai terbitnya sang fajar (subuh) hingga terbenam matahari (magrib), kita tidak makan, tidak minum, serta menahan diri dari segala sesuatu yang akan membatalkan puasa.

Oleh sebab itu, dalam melaksanakan ibadah puasa harus secara totalitas, pasrah dan ikhlas. Dan hanya mengharap rida dan pengampunan dari Allah swt.

"Isilah puasa dengan kegiatan positif, meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah dibanding bulan-bulan sebelumnya, mengerjakan salat tarawih/witir berjemaah, mengikuti kuliah subuh, tadarus, dan lain-lain."

Selain itu, sebagai seorang muhsin, kita harus peduli terhadap sesama dengan memberikan sebagian dari rezeki kita kepada mereka yang membutuhkan. Baik itu infak, sedekah, zakat, dan amal jariah.

Sebab dengan kita bersedekah, diri manusia akan bersih dan harta yang dimiliki disucikan. Juga saling memaafkan dengan melebur dosa sesama manusia.

Karenanya Ramadan sebagai momentum kembalinya jati diri manusia yang fitrah dan bertakwa. Dan takwa merupakan derajat tertinggi bagi manusia di hadapan Allah swt. "Sesungguhnya orang yang paling mulia derajatnya di sisi Allah adalah orang yang bertakwa."

Bagi mereka yang tidak berpuasa karena sakit, uzur, atau wanita menyusui, maka diberikan kemudahan Allah dengan menggantinya di hari lain dan atau membayar fidiah dengan memberi makan fakir miskin sesuai bilangan puasa yang ditinggalkan.

Tujuan akhir puasa adalah menjadi muttaqin. Namun ini tak semudah membalikan telapak tangan, perlu perjuangan karena banyak sekali godaan dan godaan paling hebat adalah menjaga hawa nafsu.

Selamat berpuasa Ramadan, dengan dibarengi amal soleh lainnya, karena iman dan mengharap rida Allah swt, semoga kita dapat menjadi muttaqin. Amin. ***